SULTAN TRENGGONO, SULTAN KERAJAAN DEMAK

SULTAN TRENGGONO, SULTAN KERAJAAN DEMAK



Dalam Babat Tanah Jawi Serat Pupuh XXXVII Dhandanggula menjelaskan beberapa hal salah satunya tentang Raja ke-dua kerajaan Demak yaitu Sultan Trenggono. Dalam serat yang berbunyi:
...
(36) Wus mangkana kering sang ngayogi
Singa kang den karsakake
Amilih Ngadilangu
Padhekahan ingkang prayogi
Ingkang sae tan arsa
Anging Ngadilangu
Duk samana kanjeng sultan
Cinarata nenem putra nira nenggih
Ingkang sepuh wanodya
(37) Krama kyai anging langgar nenggih
Putra nira Kyai Ageng Sampang
Putra malih panenggake
Ananing namanipun
Pangeran Arya arine malih
Estri endah kang warna
Wus sakrama antuk
Lan Pangeran Kali Nyamat
Nimas Ratu Kali Nyamat kang wewangi
Ari malih wanodya
...
Sepenggal serat tersebut sedikit menjelaskan tentang 6 anak Sultan Trenggono, yakni (Hasanah, 2020):
1.      Anak pertama seorang perempuan dan menikah dengan Kyai Ageng Langgar Sampang
2.      Pangeran Arya (Sunan Prawoto)
3.      Ratu Kalinyamat yang kemudian menikah dengan Sultan Hadirin (Pangeran Kalinyamat)
4.      Anak perempuan yang menikah dengan Jaka Tingkir dari Pajang
5.      Ratu Kambang
6.      Raden Mas Alit
Sebelum membahas lebih tentang keluarga Sultan Trenggono, Saya akan sedikit menceritakan kisah bahwa raja pertama Demak, Raden Patah yang meninggal ketika menyerang portugis. Lalu tahta Demak diserahkan kepada anak pertamanya bernama Pangeran Sabrang Lor. Akan tetapi pangeran ini meninggal dalam perang melawan portugis di Malaka ketika masih berusia 17 tahun (sehingga di namakan sabrang lor ). Sehingga tahta diserahkan kepada Sultan Trenggono, bukan kepada kakaknya bernama Pangeran Seda Lepen. Hal ini menjadi awal mula perselisihan dalam keluarga. Versi lain menyatakan bahwa alasan diserahkannya tahta kepada Sultan Trenggono karena ia merupakan anak dari istri pertama, sedangkan Pangeran Seda Lepen meskipun lebih tua namun ia merupakan anak dari istri ke tiga[1].
Kembali ke pembahasan tentang Sultan Trenggono yang telah menduduki tahta kerajaan Demak. Beliau terkenal dengan semangat menumpas anti penjajahan portugis, yang dibuktikan dengan perebutan Sunda Kelapa oleh Fatahilah atas izin raja Demak yang saat itu Portugis hendak membuat persetujuan dengan Raja Sunda. Hingga kemudian beliau wafat tahun 1546. Selanjutnya tahta Demak berganti kepada anak laki-lakinya, yang dikenal dengan nama Pangeran Arya atau Sunan Prawoto. Hal ini membuat Arya Penangsang dari Jipang geram. Mengapa?
Arya Penangsang merupakan anak dari Pangeran Seda Lepen, atau cucu dari Raden Patah. Ayahnya, Pangeran Seda Lepen meninggal konon dibunuh oleh suruhan dari Pangeran Prawata[2]. Arya penangsang juga merasa lebih berhak menduduki tahta kerajaan Demak, setelah ayahnya yang merupakan anak Raden Patah yang lebih tua, pun tidak memperoleh tahta tersebut. Dua alasan tesebut menyebabkan Arya Penangsang ingin membunuh keluarga dan kerabat Sunan Trenggono.
Orang pertama yang dibunuh itu ialah Pangeran Prawoto (anak laki-laki sultan Trenggono). Dalam suatu perjalan, Sunan Prawoto beserta istri dan putera terakhirnya hendak pergi ke Pajang. Dalam perjalanan Sunan Prawoto dan istrinya meninggal, dan konon dibunuh oleh Arya Penanngsang untuk memenuhi sumpahnya sebelumnya. Mendengar hal tersebut, Ratu Kalinyamat tidak terima akan kematian kakanya tersebut. Ia dan suaminnya Sultan Hadirin mengunjungi Sunan Kudus, untuk meminta keadilan atas tindakan muridnya, Arya Penangsang. Namun dalam perjalanan pulang, Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin dicegat hendak dibunuh oleh suruhan Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri akan tetapi tidak dengan suaminya, Sultan Hadirin terbunuh. Hal ini membuat Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan ia memutuskan untuk melakukan Tapa Wudha hingga ada seseorang yang mampu mengalahkan Arya Penangsang.
Tidak sampai itu saja, menantu Sultan Trenggono, juga hendak dibunuh ketika sedang tidur tetapi gagal. Sehingga ia melanjutkan perjuangan mengalakan Arya Penangsang dan membalaskan dendam mbakyu nya, Ratu Kalinyamat. Akhirnya tahun 1549 Jaka Tingkir membunuh Arya Penangsang. 

SULTAN TRENGGONO, SULTAN KERAJAAN DEMAK 



DAFTAR PUSTAKA

Hasanah, S. N. (2020). Babad Tanah Jawi: Adam Dumugi Adipati Demak. Jakarta: Perpusnas Press.



Comments

Popular posts from this blog

CARA MENGATASI SIFAT INTROVERT DAN ANTI SOSIAL